Pajak Ikan Lama: Pasar Bersejarah, Beromzet Miliaran

Posted: 23 September 2012 in features, Ini Medan Bung

Jangan bayangkan ada penjual ikan di tempat ini. Pasar yang dibangun masa kolonial Belanda itu, kini populer sebagai tempat untuk berburu aneka jenis kain dan pakaian.

Siang itu, cuaca tidak begitu terik. Suasana yang tampaknya begitu disukai ratusan pengunjung, Pajak (Pasar) Ikan Lama.
Seperti biasa, di penghujung pekan, pasar yang berada di kawasan Kesawan itu, sesak dengan transaksi.
“Biasa bang, kalau sudah hari sabtu begini, ya repot. Pembeli nggak berhenti,” ungkap Syaiful, salah seorang pengelola toko di kawasan tersebut.
Seperti akhir pekan sebelumnya, Syaiful yang sudah lebih dari 10 tahun mengelola toko yang menjual perlengkapan busana muslim dan muslimah itu, tengah sibuk melayani pelanggannya dari Kuala Lumpur, Malaysia. Kebetulan, pelanggannya yang seorang ibu muda tersebut, datang dengan rombongan teman-temannya.
Selain para pelancong Malaysia, Syaiful juga punya beberapa customer base dari Singapura, Brunai maupun Thailand. Namun, diakuinya, beberapa pelanggan dari Malaysia sudah sangat ia kenal, karena selalu berbelanja di tokonya. Semua itu, berkat layanan terbaik yang berupaya ia berikan. “Bagaimanapun kita harus bisa memberikan yang terbaik kepada konsumen. Apalagi mereka datang dari luar negeri,” tegasnya.
Keberadaan Pajak Ikan Lama memang sudah sangat lekat dengan beberapa pelancong manca negara. Beberapa Sekitar 2008 lalu, saya pernah berbincang dengan salah seorang staf Malaysia Tourism Board Siti Khadijah, salah warga Malaysia. Ia mengakui, para wisatawan Malaysia banyak yang berkunjung ke kota Medan untuk menikmati liburan atau sekadar memenuhi hasrat belanja. Hal itu juga diakuinya secara pribadi. “Belanja di Medan sangat seronok,” ujar Siti. “Tapi, orang Medan malah suka belanja di Malaysia,” ujarnya heran. Salah satu destinasi yang sangat Siti nikmati adalah Pajak Ikan Lama.

Ikon Medan
Pajak Ikan Lama memang pantas menjadi ikon bagi warga Kota Medan. Tidak saja karena koleksi tekstilnya yang baik, tetapi karena tempat itu memiliki nilai historis tinggi.
Menurut ahli sejarah, Pajak Ikan Lama dibuka tahun 1890 oleh konglomerat Medan keturunan Tionghoa, Cong A Fie, atas permintaan Pemerintah Belanda. Tempat itu mulanya, menjadi pusat perdagangan ikan, sayur-mayur, dan aneka daging. Jadi pantas namanya masih melekat ke pasar itu hingga sekarang.
Tapi seiring dengan perkembangan zaman, menyusul putusnya hubungan transportasi nelayan dari Belawan ke Medan karena Sungai Deli tak mungkin lagi dilayari, Pasar Ikan Lama akhirnya berubah fungsi.
Pada tahun 1933, Pemerintah Belanda kembali membangun pasar yang lebih besar dan modern. Pasar yang kini dikenal orang sebagai Pusat Pasar Medan itu berada sekitar satu kilometer dari Pajak Ikan. Setelah pembangunan Pusat Pasar selesai, berangsur-angsur pusat perdagangan dipindah ke sana. Pasar Ikan Lama adalah salah satu sisa kejayaan masa lalu Kota Medan yang masih terjaga dengan baik.
Ketua Presidium Forum Komunikasi Lembaga Adat Sumatera Utara Tuanku Luckman Sinar mengatakan, Pajak Ikan mulai berkembang besar setelah agresi militer Belanda II tahun 1949. Pada era itu, banyak sekali kain dari Penang, Malaysia, yang masuk ke Medan.
Para pedagang yang umumnya Tionghoa menjualnya di sepanjang jalan di kawasan Jalan Cirebon, dekat Hotel Novotel. Tempat itu pernah terkenal dengan sebutan Pasar Hongkong. Nama itu pun masih ada hingga sekarang, tetapi tidak lagi terlihat pedagang kain di sana. Pada awal 1950-an, Pemerintah Kota Medan mulai menertibkan pedagang dan memindahkannya ke kawasan Pajak Ikan Lama.
Seiring dengan berjalannya waktu, pedagang Tionghoa bersaing dengan pedagang Medan, Aceh, dan India. Kini tak ada dominasi pedagang Tionghoa. Mereka berbaur, pedagang Tionghoa, Aceh, Medan, Padang dan Arab.
Salim (79), pedagang di tempat itu, tidak tahu persis kapan pasar itu berubah menjadi pasar kain. Dia yang berjualan sejak tahun 1950-an sudah tahu pasar ikan menjadi pasar kain. Sebelum semua tempat di Pajak Ikan dipakai sebagai tempat berdagang kain, tempat itu pernah dipakai sebagai gudang karet. Kini sekitar 200 kios di kawasan Pajak Ikan seluruhnya menjual kain dan aksesorinya.
Direktur Eksekutif Badan Warisan Sumatera Soehardi mengatakan, Pajak Ikan Lama mempunyai nilai sejarah pembauran warga Medan. Namun, Pemerintah Kota Medan tidak menjadikan Pasar Ikan sebagai bangunan bersejarah. “Mestinya, kawasan itu masuk dalam daftar situs yang dilindungi,” katanya.

Beromset Miliaran
Pajak Ikan Lama, kini punya nama. Lokasi ini tak surut pembeli meski dalam satu dekade terakhir bermunculan pusat belanja modern. Bahkan, trendnya kini tengah meningkat. Itu yang membuat banyak pengusaha dan pedagang begitu berani berinvestasi di sana.
Menurut beberapa sumber, saat ini, sewa satu space kios harganya bisa sekitar seratusan juta per tahun. Itu terjadi karena di awal-awal mereka harus ‘bersaing’ dan ‘saling timpa’  harga untuk mendapatkan tempat. Siapa yang berani berinvestasi dan punya dana besar, merekalah yang berhak atas lokasi yang tersedia. Yang jelas, bisa membuat para pemilik tempat itu, menikmati hasil sewa tanpa harus kerja keras.
Begitupun, hingga kini, tidak ada pedagang yang gulung tikar. Justru usaha mereka maju pesat karena konsumen begitu
percaya dengan kualitas produk dari pasar tersebut.
Dulunya, pasar ini khusus menjual kain dan busana muslim. Namun belakangan, pedagang gorden dan aksesoris interior rumah semakin marak. Bahkan, gorden made in Pajak Ikan Lama, begitu diminati warga Malaysia dan Brunei. Meski buatan lokal, namun kualitasnya sangat terjamin. “Satu set gorden harganya bisa sampai Rp 25 juta, tergantung kualitas bahan dan desainnya. Karena semua desain dibuat dengan tangan, bukan buatan pabrik,” jelas, Andi, salah seorang penjaga toko.
Sama seperti gorden, bahan baku produk-produk busana juga umumnya berasal dari produsen lokal. Belakangan masuk produk korea yang lebih trendi dan dinamis.
Khusus perangkat busana muslim dan busana sholat, para pedagang memanfaatkan jasa pengusaha kecil untuk proses pembuatan hingga finishing. “Kualitas produk di Pajak Ikan Lama tetap kita jaga. Makanya, walaupun harga di sini sedikit mahal, namun konsumen sudah banyak yang paham bahwa yang uang yang mereka keluarkan memang senilai dengan kualitas barang yang mereka beli,” tutur Syaiful.  (hadi iswanto/berbagai sumber)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s