Posted: 31 Januari 2009 in Otosport

HDCI Sumatera Utara

INI BUKAN HURA-HURA

By: Hadi Iswanto

foto-harleyBruum… bruuum. Harley Davidson melintas gagah. Membelah jalan raya. Memikat perhatian dengan letupan suaranya.

Pagi itu, para biker Harley Davidson yang tergabung dalam HDCI (Harley Davidson Club Indonesia), sudah berkumpul dan berkemas di markas mereka, Jalan Sei Deli No 8 Medan. Setelah semua dirasa sudah klop, Ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Sumatera Utara, Musa Rajeck Shah alias Ijeck, memulai rencana perjalanan mereka dengan briefing singkat.

“Jalan yang akan kita lalui sangat sempit. Paling kita hanya bisa jalan dua baris saja. Kita ingin perjalanan ini tidak sampai mengganggu pengguna jalan lainnya,” kata Ijeck, mengingatkan pentingnya keselamatan dan kenyamanan di jalan yang akan mereka lintasi menuju Sibolangit, Minggu 21 Desember lalu.

Seperti biasa, “ritual” pagi itu ditutup dengan doa. Dan sesaat kemudian, deru mesin ribuan cc pun menggema. “Kita ke rumah Kapolda dulu,” ujar salah seorang biker kepada Medan Weekly yang ikut dalam rombongan HDCI Sumut dalam rangka touring dan bakti sosial menjelang Natal dan Tahun Baru ke panti asuhan Sungai Air Hidup di Tuntungan dan Panti Asuhan Gelora Kasih Sibolangit.

Kapolda yang dimaksud adalah Kapolda Sumut Irjen Pol Drs Nanan Soekarna. Jenderal yang satu ini memang hobinya naik motor. Bulan Ramadhan yang lalu, ia pilih naik Harley bersama rombongan HDCI dan IMI Sumut saat safari ramadhan sekaligus Sidak ke beberapa Polsek di Binjai hingga Langkat. Nah, menjelang Natal kemarin, Kapoldasu kelihatan makin semangat saat dijemput lebih dari 30 anggota HDCI Sumut di rumah dinasnya, Jalan Walikota Medan. “Saya memang suka naik motor sejak kecil,” aku Nanan Soekarna.

Jadi, alasannya naik motor bukan karena Harley Davidson. Baginya, yang terpenting misi dari pengguna sepeda motor, terutama yang bergabung di klub-klub hobi. Klub dibentuk untuk tujuan sosial, bukan profit. Karena itu, dengan bergabungnya orang-orang dalam sebuah perkumpulan hobi yang sama, bukan bertujuan memisahkan diri dengan pihak lain. Justru secara bersama-sama memegang misi untuk membantu sesama. “Jangan jadi eksklusif,” ingatnya.

Sejak berdiri pada tahun 1990, HDCI Sumut telah bergerak dalam bidang olahraga, pariwisata dan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

Di halaman pertama website www.hdcimedan.com secara tegas filosofi HDCI dinyatakan. HDCI dalam kehidupannya mengutamakan pengabdian yang dilandasi dengan hobi untuk membantu masyarakat dalam hal kegiatan sosial melalui kerja nyata. Para biker yang memiliki kelebihan secara materi, selalu mengaitkan segala aktifitas dengan tujuan sosial.

“Setiap menyambut hari-hari besar keagamaan, kita kumpul dana untuk touring sekaligus memberi bantuan ke Panti Asuhan dan masyarakat kurang mampu. Jadi kegiatan touring bukan untuk hura-hura,” tegas Ijeck.

Touring mereka tahun ini diprediksi bakal makin ramai. Soalnya ada rencana tour akbar ke luar Sumut, termasuk melanjutkan touring ke beberapa Negara ASEAN. Tahun 2007, sudah terealisasi touring ke Malaysia dan tahun lalu ada rencana ke Thailand, tapi dibatalkan akibat krisis keamanan di negeri itu. “Kita ingin di 2009 aktivitas HDCI lebih baik lagi,” tutur Ijeck.

Nilai Kekeluargaan
SIAPAPUN akan bilang kalau kecintaan pada Harley Davidson bernilai mahal. Apalagi mereka yang sudah “tergila-gila”. Untuk tipe standart baik baru maupun second, harganya bisa antara puluhan juta hingga ratusan juta. Tapi Harley custom alias modifikasi, harganya bisa melonjak berkali-kali lipat dari harga standar. Karena custom nilainya tak terbatas. Asal sesuai selera, hajar!

Konon, di Indonesia, para penggemar sepeda motor besar tidak segan untuk mengeluarkan dana besar untuk memodifikasi tunggangan mereka agar tampil lebih bergaya dibandingkan model standarnya. Kegilaan orang Indonesia membuat orang AS geleng-geleng kepala. Bayangkan, Harley Davidson yang berharga Rp 500 juta masih dimodifikasi lagi dengan biaya Rp 700 juta. Padahal di AS, Harley Davidson kebanyakan dibiarkan standar.

Karena harga motor Harley Davidson yang mulai diproduksi pada 1903 di Amerika Serikat dan mulai masuk Indonesia pada 1940-an selangit, hanya segelintir masyarakat Sumut yang memilikinya. Namun, Ijeck berharap komunitas yang sedikit ini bisa bermanfaat buat orang banyak. “Kalau ngumpul semua di Sumatera Utara, jumlahnya bisa ratusan,” kata Ijeck.

Bagi biker Harley di Medan, tidak sulit untuk merawat maupun mempercantik bodi hingga membedah mesin menjadi “monster” berdaya “ledak” tinggi. Soalnya, di Jalan Sei Deli, mereka punya montir handal dan perwakilan dari importir sekaligus distributor PT Mabua Harley Davidson siap berkunjung secara rutin dalam periode tertentu. So, semuanya tidak susah, asal cukup saja dananya.

Tapi bagi biker Harley mania, dana bukan soal utama. Yang penting buat mereka adalah nuansa kekeluargaan yang selalu terjaga. Ijeck mampu membawa HDCI Sumut menjadi organisasi yang solid dan berwibawa. “Orang bilang hobi ini mahal, tapi dengan suasana kekeluargaan, yang mahal bisa murah,” ujar Ationg, biker Harley Davidson yang baru setahun gabung dengan HDCI Sumut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s