1,5 Tahun Gus Irawan di KONI Sumut

Posted: 31 Januari 2009 in SPORT
Tag:

gus-irawan-pasaribu11,5 Tahun Gus Irawan di KONI Sumut
Empat Pilar Belum Terbangun

Oleh: Hadi Iswanto

Banyak prestasi dicapai selama satu setengah tahun Gus Irawan memimpin KONI Sumut. Tapi, tak sedikit pula stagnasi terjadi.

Masa-masa awal kepemimpinan Gus Irawan sebagai ketua umum KONI Sumut memang fantastis. Sejak dilantik, pertengahan 2007 lalu, dua hal besar sudah dibuktikannya. Pertama, menaikkan anggaran APBD untuk pembinaan olahraga hingga 200 persen. Kedua, menempatkan Sumut di peringkat ke-7 pada PON XVII 2008 dengan 20 emas.

Sayangnya, visi dan misi saat pencalonannya 2007 lalu yang termaktub dalam empat pilar yakni pembenahan organisasi, pemberdayaan masyarakat, pembinaan prestasi dan pendanaan organisasi, masih belum sepenuhnya dijalankan.

Memang, masih terlalu dini untuk menilai kinerja Gus Irawan yang belum genap 2 tahun. Namun, melihat dinamika yang terjadi dalam “gerbong” kepengurusan KONI Sumut saat ini, rasanya sulit berharap visi dan misi itu bisa berjalan seluruhnya. Setidaknya, ada tiga indikator yang membuktikan hal itu.

Pertama, ketergantungan KONI Sumut pada pemerintah sangat besar.
Semula ada harapan, dengan munculnya Gus Irawan sebagai sosok non pejabat pemerintah dan begitu piawai dalam memoles PT Bank Sumut, maka ketergantungan itu bisa dikurangi dengan wawasan bisnis yang dimilikinya. Tapi kenyataannya, paradigma KONI Sumut belum berubah. Organisasi non goverment ini tak ubahnya sebagai lembaga pengelola dana pemerintah.

Dalam urusan ini, Gus Irawan memang luar biasa. Dengan dukungan Pemprovsu, DPRD Sumut dan komitmennya, anggaran KONI Sumut bisa mencapai Rp 28 miliar, tahun lalu. Dana itu benar-benar dimanfaatkan KONI Sumut untuk mempersiapkan atlet menuju PON XVII di Kaltim, biaya kebutuhan lebih dari 300 atlet dan ofisial selama di sana hingga bonus Rp 100 juta bagi peraih emas. Hasilnya, prestasi meningkat dari posisi 12 menjadi 7 dan dari 15 medali emas menjadi 20 medali emas. Meskipun hasil itu juga tak terlepas dari andil kepengurusan periode sebelumnya di bawah kepemimpinan almarhum HT Rizal Nurdin.

Tahun 2009, ada dana sekitar Rp 16 miliar untuk KONI Sumut yang sudah terakomodir dalam APBD. Dana itu diproyeksikan bagi 3 program yang akan dijalankan yakni pembinaan super prioritas, prioritas dan pembinaan intensif. Sisanya untuk kebutuhan kinerja KONI dan induk-induk organisasi olahraga di bawah naungan KONI Sumut.

Angka-angka itu meningkat signifikan, bila dibandingkan anggaran yang bisa dicapai di saat KONI Sumut masih dipimpin langsung oleh gubernur. Bandingkan dengan masa almarhum HT Rizal Nurdin yang anggarannya tak jauh-jauh dari Rp 10 miliar.
Tapi, keinginan amanah UU Sistem Keolahragaan Nasional No 3 Tahun 2005 baru dijalankan secara parsial. Di satu sisi, Gus mampu mengerahkan potensinya dalam mendorong pemerintah untuk membiayai kebutuhan dana olahraga. Tapi di sisi lain, ia masih belum mampu mendorong KONI Sumut mewujudkan industri olahraga yang juga diinginkan UU tersebut. Hal ini juga menunjukkan belum tercapainya misi KONI Sumut dalam hal pendanaan organisasi melalui sistem bapak angkat, partisipasi BUMN/BUMD hingga kerjasama sponsorship.

Kita belum melihat sebuah gerakan di luar pembinaan atlet secara langsung, yang muaranya pada pengembangan potensi KONI Sumut dalam meningkatkan profesionalisme dalam menggalang dana olahraga. Tidak hanya di dunia bisnis, semestinya KONI juga memiliki marketing handal. Mereka bertugas memasarkan produk bernama atlet dan event olahraga atau berupa program jangka panjang seperti Pelatda intensif.

Problem ini bukan semata urusan Gus Irawan. Dalam struktur organisasi KONI Sumut sebenarnya sudah ada bidang/komisi promosi dan pemasaran yang seharusnya menangani hal itu, sayangnya tidak berjalan.

Wakil Ketua I KONI Sumut John Ismadi Lubis mengakui pihaknya telah mengupayakan pendekatan ke beberapa perusahaan BUMN maupun BUMD untuk menyokong pendanaan olahraga. Namun, upaya itu belum berhasil. Di satu sisi, menurutnya olahraga Sumut belum memiliki nilai jual yang baik.

Kedua, jaminan masa depan bagi para atlet belum terwujud.
Saat Rapat Paripurna KONI Sumut tahun lalu, muncul kembali program KONI Sumut untuk berperan dalam memberikan pekerjaan dan asuransi masa depan bagi para atlet. Sayangnya, dari dua program itu, belum satupun terealisasi.

Puluhan, bahkan ratusan atlet Sumut, masih antre untuk mendapatkan jatah PNS yang dijanjikan pemerintah melalui Menegpora. Soalnya, KONI Sumut sendiri ternyata belum bisa meyakinkan dunia usaha agar mempekerjakan para atlet. Apalagi atlet yang masih aktif dan berprestasi.

Selain 8 atlet yang sudah lulus tahun ini, peluang puluhan atlet peraih medali emas PON XVII lainnya untuk masuk PNS sesuai janji pemerintah saja masih di awang-awang, apalagi atlet-atlet yang prestasinya paling tinggi cuma medali perak PON. Sejauh ini, hanya rekomendasi yang bisa diberikan KONI Sumut, selebihnya, berjuanglah sendiri-sendiri.

Ketiga, organisasi KONI Sumut dan Pengprov (induk organisasi) olahraga belum berjalan optimal.
Tidak semua pengurus KONI Sumut menjalankan perannya dengan baik. Beberapa bidang/komisi seperti penelitian dan pengembangan, promosi dan pemasaran, komisi hukum, pendidikan dan penataran serta komisi penerapan Iptek olahraga, masih belum menunjukkan perannya. Padahal, bidang dan komisi-komisi itu sangat sentral dalam mendukung pembinaan.

Selain masalah internal, KONI Sumut juga dihadapkan pada tugas berat untuk mengatasi problem yang terjadi di Pengprov olahraga. Banyak pengurus yang sudah habis masa baktinya, tapi tidak melakukan musyawarah untuk memilih pemimpin baru. Ada juga Pengprov yang seperti sengaja membiarkan kondisi chaos dalam organisasinya.

Problem di atas jelas bukan soal ketidakmampuan Gus Irawan maupun KONI Sumut. Masalahnya, kembali pada diri para pelaku olahraga. Sejauhmanakah kejujuran dan sportivitas, yang termaktub dalam filosofi olahraga itu, mereka jalankan?

Memasuki 2009, beberapa pola pembinaan kembali diprogramkan. Berdasarkan siklus PON, maka tahun inilah sesungguhnya pembinaan periode kepemimpinan Gus Irawan dimulai. Karena hasil kerja kerasnya akan dibuktikan pada PON XVIII di Riau, 2012 mendatang. Tahun ini pula, 4 pilar prestasi yang jadi konsep kerja Gus Irawan bersama KONI Sumut, harus terus dibangun satu persatu. Jika pembangunannya digilir berdasarkan empat tahun periodesasi KONI Sumut, maka setiap tahun harusnya ada satu pilar yang terpenuhi. Kini, satu setengah tahun telah berlalu dengan hasil yang baik. Kita berharap, dua setengah tahun berikutnya, tidak berlalu dengan percuma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s