Gedung Serba Guna: Impian yang Terancam

Posted: 11 Februari 2009 in Uncategorized

img_08182img_09312Hadi Iswanto
Sudah hampir Rp 60 miliar anggaran APBD dihabiskan selama proses pembangunan Gedung Serba Guna (GSG) pada tahun 2002-2007. Tapi proyek tak kunjung rampung. Tim Percepatan Pembangunan sudah dibentuk, namun prosesnya masih berjalan lamban.

Sore itu, Nurdin, 35, “mengarit” rumput di areal GSG untuk makanan ternaknya. Sudah dua gulungan rumput yang dibalut dengan goni bekas dan seutas tali, berhasil dikumpulkannya. Ia pun bersiap untuk pulang, mengangkut rumput dengan sepeda yang tampak usang. Ia sudah melakukan rutinitas itu sejak tahun lalu. “Di sini rumputnya bagus bang, tapi ya gak bisa tiap hari saya ambil,” ungkap ayah dua anak yang menetap di Desa Lau Dendang itu.
Tidak ada jadwal rutin Nurdin datang ke sana. Terkadang cuma tiga kali sebulan. Soalnya, ada beberapa peternak sapi dan kambing yang juga memanfaatkan lahan kosong itu.
Ya. Sejak pembangunan GSG dihentikan pada 2007 lalu, lahan yang luasnya sekitar lima hektar itu kini semakin tak terawat. Beberapa peternak memanfaatkan rumput yang tumbuh liar di sana. Ada juga yang membukanya menjadi ladang jagung dan sayuran, meskipun dalam skala kecil, karena memang dilarang. Di batas sebelah barat, tampak dua rumah kayu yang dibangun seadanya dan dihuni dua keluarga.
Jelas, mereka yang datang apalagi menetap di sana, tidak punya izin. Tulisan “Dilarang Masuk KUHP 551” yang tertulis di permukaan seng pembatas, sudah sulit dibaca karena seng tersebut mulai berkarat. Tapi, karena gedung dan lahan proyek itu terlantar, pemanfaatannya secara liar tak bisa terhindarkan.
Dari hasil pengamatan MW, areal GSG seluas 225 x 225 m itu kini sudah disesaki denga ilalang dan rumput serta pepohonan kecil yang membentuk semak belukar. Bangunan GSG seluas 110 x 110 m juga tampak usang, terdehidrasi oleh alam.
Tumpukan bata berserakan di lantai II, tiang-tiang pondasi yang akan jadi hall (lapangan in door) berbalut lumut. Ilalang pun begitu nyaman hidup di sana. Formasi lingkaran tribun tempat duduk yang diperkirakan berkapasitas 7.500 penonton (terbesar di Kota Medan), juga mulai terkikis oleh panas dan hujan yang menghantam bebas. Pecahan-pecahan beton berserakan dan ruang-ruang yang sudah terbangun, tampak begitu menyeramkan.
Itu gambaran di saat bangunan GSG baru setahun ditinggalkan (sejak dihentikan pembangunannya di tahun 2007). Apa jadinya, jika tahun ini bangunan itu tak juga rampung? Yang pasti, Rp 60 miliar bisa terkikis percuma!

Terjebak
Sejak mulai dibangun, hingga saat ini, polemik soal GSG tak kunjung usai. Harusnya tidak ada yang dipersalahkan lagi, karena proses pembangunan hingga auditnya sudah berjalan. Apalagi persoalan yang muncul selama ini karena pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembangunan GSG, “terjebak” dengan kebijakan periodeisasi pembangunan yang memakan waktu terlalu lama.
Berdasarkan data yang diperoleh MW, dalam planning awal, dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh bangunan dengan masa lima tahun (2002-2007) anggaran senilai Rp 72.515.300.000. Namun nyatanya, yang terealisasi melalui APBD hanya Rp 59.924.687.500. Berarti ada selisih Rp 12.590.612.500. Belum lagi fluktuasi harga yang kemudian sangat berpengaruh pada hasil yang ingin dicapai.
Hingga proses pembangunan tahun 2007, pekerjaan baru selesai hingga lantai II, tribun penonton, atap beton serta struktur teras barat dan teras selatan. Semuanya baru dalam batas kerangka. Sementara atap dari mulai rangka hingga penutup dan proses finishing serta lansekap butuh dana tambahan sekitar Rp 50 miliar. Jumlah yang kabarnya tengah diperjuangkan oleh sebuah tim bernama Tim Percepatan Pembangunan GSG.

Harus Selesai
Tim tersebut kemudian merumuskan tiga alternatif penyelesaian pembangunan GSG. Alternatif pertama dilaksanakan dengan kontrak multi years dengan jaminan P-APBD 2008 senilai Rp 10 miliar dan APBD 2009 Rp 40 miliar.
Alternatif kedua melalui kontrak biasa yang langsung dimasukkan dalam APBD senilai Rp 50 miliar. Alternatif ketiga, dilaksanakan melalui kontrak multi years dengan pembiayaan kredit Bank Sumut senilai Rp 50 miliar.
Opsi terakhir inilah yang paling mungkin dilakukan, karena dua opsi sebelumnya sudah dipastikan gagal dijalankan. Untuk menjalankan opsi ketiga ini, membutuhkan persetujuan Gubsu dan DPRD Sumut agar terjalin komitmen pembayaran.
Gubsu Syamsul Arifin berulangkali menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan pembangunan GSG. Namun hingga kini, belum ada kepastian. Situasi ini diharapkan tidak berkepanjangan, karena dana yang sudah dihabiskan untuk membangun GSG cukup besar. Selain itu, kebutuhan dan dampak positif dari terbangunnya gedung olahraga sangat besar.
Rencana pembangunan GSG lahir dari impian mantan Gubsu almarhum HT Rizal Nurdin seusai PON XV tahun 2000 di Surabaya, untuk membawa even empat tahunan itu ke Sumatera Utara. Soalnya, daerah ini sudah lama tidak menjadi tuan rumah even tersebut, sejak PON III tahun 1953. Selain itu, Sumut hanya punya Stadion Teladan yang sudah tua dan bahkan tidak layak pakai untuk kompetisi Liga Super 2008, GOR Veteran yang kondisinya memprihatinkan, GOR PBSI yang sering bocor dan berkapasitas kecil serta Gelanggang Remaja yang tidak representatif lagi.
Atas dasar itulah, GSG mulai diwujudkan dengan sasaran awal Pekan Olahraga Wilayah Sumatera (Porwil) 2007. Tapi, lebih dari 3 tahun HT Rizal Nurdin meninggal dunia, semua impiannya belum kesampaian.
GSG dibangun dengan kapasitas sekitar 7.500 penonton. Gedung dengan tribun penonton dua tingkat ini bisa dipergunakan untuk berbagai event nasional hingga internasional. Dari mulai kejuaraan-kejuaraan olahraga hingga konser musik dan pertunjukan-pertunjukan kelas dunia.
Dengan sistem pengelolaan yang ditangani secara profesional, intensitas kegiatan akan meningkat dan otomatis bisa dialokasikan untuk biaya perawatan hingga menambah income daerah.
Secara luas, dampak ekonomis GSG juga terasa oleh masyarakat. Pusat jajanan dan kios-kios terbangun dan pedagang musiman menikmati hasil dari keramaian. Belum lagi dinamika uang yang muncul melalui traffick iklan dan sponsor di area GSG.
Dari sisi prestasi, GSG juga diharapkan bisa menjadi sarana berlatih yang representatif sekaligus memacu semangat berlatih mereka. Di samping itu, masyarakat juga akan berlomba memanfaatkan lapangan terbuka di sekitar gedung, untuk berolahraga, bermain dan melepas kepenatan.
Kawasan jalan Pancing saat ini, meskipun bukan areal Kota Medan, namun sangat cocok untuk sarana olahraga sekaligus rekreasi. Beberapa sarana telah ada di sana, seperti lapangan sepakbola, sirkuit road race dan sebagainya. Selain itu, sentra perdagangan dan pendidikan sudah ada di sana yang turut mensupport terbangunnya daerah pinggiran. Dengan hadirnya GSG, maka dinamika positif yang sudah ada akan semakin meningkat.
Multi effect tersebut semestinya cukup menjadi alasan untuk merampungkan pembangunan GSG. Namun, ada saja di antara pembuat kebijakan yang sengaja mencari-cari alasan guna membiarkan bangunan bernilai Rp 60 miliar itu punah sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s