Kapten Kal TU Bukit: Asyik, Bisa Terbang Bebas

Posted: 11 Februari 2009 in Profil, SPORT

bukit2Penulis & foto: Hadi Iswanto

Bukan cita-citanya menjadi perwira TNI angkatan udara (AU). Sama halnya ketika ia memilih olahraga paralayang sebagai hobi. Sebelum masuk TNI AU, tak pernah terbersit dalam pikirannya untuk terbang dengan parasut dan bahkan menjadi salah satu atlet paralayang terbaik di Indonesia.
Begitulah Kapten Kal Terang Ukur Bukit. Kepala Pengadaan Kosek Hanudnas III Medan ini, baru mulai menggeluti paralayang pada tahun 2000. Setahun kemudian ia sudah memperkuat Bali untuk berbagai even, termasuk perhelatan PON XVI 2004 di Sumatera Selatan.
Prestasi terbaiknya justru hadir tahun ini. Memperkuat provinsi Banten pada PON XVII di Kalimantan Timur, ia sukses mempersembahkan satu medali emas perorangan dan satu perak beregu. “Saya sudah ada di Medan setelah dari Bali. Tapi karena Banten mau memberikan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan kami, maka saya pilih memperkuat Banten daripada Sumut,” aku Bukit didampingi sang istri Shalian ketika ditemui MW di sebuah cafe di depan kompleks perumahan TNI AU, Jalan Mongonsidi Medan, baru-baru ini.
Lupakan soal loyalitas kedaerahan. Yang terpenting bagi pria kelahiran Medan 2 September 1970 ini, ia bisa tampil optimal dan menunjukkan prestasi terbaik di pentas nasional. Ketika ditemui MW, ia tengah bersiap berangkat ke Bali guna memperkuat tim paralayang Indonesia pada ajang Asian Beach Games (ABG) yang berlangsung pada 18-26 Oktober ini.

Apa yang membuatnya tertarik?
Tak banyak orang menggeluti olahraga paralayang. Di Sumut misalnya, tak lebih dari 30 orang saja. Tapi, hal itu justru menantang TU Bukit yang memang sangat menyukai olahraga ekstrim sejak usianya menginjak masa remaja. “Dari dulu aku suka tantangan. Makanya ketika aku kenal paralayang, ya langsung tertarik, apalagi olahraga ini ada kaitannya dengan kedinasan,” tutur ayah dari Flanker Bukit, 4 tahun.
Lebih dari itu, paralayang telah mewujudkan impiannya untuk terbang seperti burung. Melayang bebas, kemana saja dan melihat hal-hal menakjubkan dari udara. “Dunia kami beda. Dunia kami ada di udara,” ucapnya antusias.
Namun, untuk terbang dengan paralayang, seseorang harus memiliki skill khusus yang bisa dikuasai melalui latihan. Ini yang membuat paralayang berbeda dengan saat kita terbang dengan pesawat udara. “Kalau terbang naik pesawat bisa dilakukan siapa saja dan kita tidak bebas. Di sini, kita bisa mengendalikan sendiri dengan skill dan feeling. Buat saya itu semua jadi tantangan dan mengasyikkan sekali,” papar ketua bidang paralayang Federasi Aero Sport Seluruh Indonesia (FASI) Sumut ini.

Jadi Instruktur
Kini, selain aktif sebagai atlet maupun juri perlombaan, TU Bukit aktif mengendalikan klub paralayang Sumatera Adventure Paragliding Club yang berdomisili di Medan. Klub ini memiliki 20-an anggota aktif yang biasanya mangkal di Taman Simalem, Tanah Karo setiap sabtu dan Minggu. Mereka membuka layanan bagi siapa saja yang berminat mencoba atau menggeluti olahraga ini.
”Belajar paralayang ini termasuk mudah. Dalam waktu singkat orang sudah bisa terbang sendiri,” tutur Bukit yang setiap tahun menggelar even paralayang di Pulau Samosir.
Tak ada syarat khusus bila seseorang ingin bisa terbang. Yang penting, kata Bukit, sehat jasmani dan rohani serta mau belajar. Soal ketakutan pada ketinggian, itu bisa hilang bila dilawan. Berdasarkan pengalaman beberapa kali memberi pelajaran kepada pemula, Bukit paham bahwa ketakutan itu hanya di saat kita memulai. “Rasa takut pada ketinggian itu biasa. Yang penting, kita harus berani mencoba. Karena setelah dicoba, biasanya ketakutan akan hilang,” jelasnya.

Tips
Ikuti Prosesnya
Sama seperti olahraga ekstrim lainnya, paralayang juga mengandung risiko yang besar. Namun, risiko bisa jadi aman bila flyer (penerbang) tidak ceroboh dan mengikuti cara yang benar dalam memainkannya.
Menurut Kapten Kal TU Bukit, ada tiga tahapan yang harus dilalui sebelum kita memulai menjadi penerbang layang.
Pertama, ground training. Pada tahap ini, para calon flyer belajar mengenal perlengkapan paralayang dan bagaimana cara menggunakannya. Misalnya bagaimana mengembangkan payung (parasut) dan memahami karakternya.
Kedua, class room. Para calon flyer diajarkan mengenai berbagai hal teknis yang spesifik seperti memahami cuaca, mengenal karakter angin dan alam, bagaimana cara terbang dan landing (mendarat) dan sebagainya.
Ketiga, memulai terbang. Dalam tahap ini, penerbang dituntut benar-benar mengaplikasikan teknik-teknik yang sudah diajarkan dalam dua tahapan sebelumnya. Dalam penerbangan perdananya, akan dipandu melalui perangkat komunikasi. Atau jika masih ragu untuk memulai, bisa tandem (berduet) dengan instruktur. Sehingga, instruktur bisa memandu secara langsung ketika penerbangan sedang berlangsung.
Gak susah kan. So, silahkan mencoba!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s