Spirit Olahraga dari Titik Nol

Posted: 15 Juli 2009 in SPORT

Jangan yang susah dong gerakannya, Tante Jamilah... Yang ngikutin dah kerepotan tuh. MASIH pukul 05.25 WIB. Belum ada setitikpun cecahan cahaya mentari membias dari balik pepohonan. Tapi orang-orang mulai mengalir dari setiap sudut kota Medan. Bagai tertarik magnit, mereka menuju titik nol kilometer-nya Kota Medan, Lapangan Merdeka.

Pemandangan seperti itu biasa terjadi di setiap Minggu pagi.  Secara perlahan, orang yang datang sejak subuh dari hanya puluhan orang menjadi ratusan hingga ribuan.  Mereka ingin memanfaatkan suasana pagi di hari liburnya dengan mendatangi Lapangan Merdeka.  Sebuah tradisi yang ntah kapan dimulai. Tapi mungkin sudah ada sejak lapangan itu terbentang di tengah kota.

Sebagian besar orang mungkin datang dengan tujuan berolahraga. Tapi, yang lain belum tentu punya misi serupa. Banyak kaum muda hanya sekadar mencari tempat nongkrong sambil menikmati suasana pagi nan ceria, ada juga yang sekadar cuci mata, menikmati liburan bersama keluarga atau bahkan cuma datang membawa barang dagangan dengan harapan meraup untung dari keramaian atau sekadar menikmati sarapan bersama keluarga di lapangan merdeka.

Tapi yang jelas, mereka menyatu dengan energi dan spirit pagi nan menyegarkan. Lalu membentuk siklus kehidupan simbiosa mutualisme. Ada gula ada semut. Ada lokasi olahraga yang nyaman dan murah, bahkan gratis, di situlah banyak orang datang. Ada keramaian, di sana para pedagang nomaden berdatangan. Di tengah keceriaan, di sanalah orang yang letih dengan rutinitas melenturkan urat-urat syarafnya.

Sekitar pukul 06.00 WIB. Pergerakan dimulai. Cek..cek..cek… 123. Para teknisi dan beberapa instruktur senam mulai meracik soundsystem. Lima belas menit kemudian, ratusan orang sudah menghadap podium. Membentuk barisan dengan jarak tertentu, tanpa disuruh. Musik mulai menghentak. Instruktur mengambil kendali. Lalu, senam aerobik pun dimulai dari gerakan peregangan dan pemanasan.

Sekitar satu jam berikutnya, musik semakin lantang dan ribuan orang larut dalam gerakan. Mereka senang, ceria dan bugar. Di sela itu, sebuah kantong plastik diedarkan dan sesaat kemudian mulai terisi dengan uang kertas dan logam recehan. “Kami membiayai kegiatan ini dengan swadaya. “Begitupun kadang-kadang hasil yang didapat nggak cukup,” aku Jamilah Aziz, selaku koordinator instruktur senam tersebut.

Keliling Lapangan Merdeka

Saat ribuan orang menikmati senam aerobik di tengah lapangan, ribuan lainnya memilih keliling lintasan mengitari lapangan Merdeka. Ada yang berlari sendirian atau berjalan bersama keluarga dan pasangan. Dari ibu hamil, anak bayi yang digendong maupun disorong dengan kereta bayi hingga orang tua berada di trek yang sama. “Saya senang bawa anak-anak kemari. Jalan-jalan pagi sambil sarapan,” ungkap Andi, bapak dua anak yang pagi itu bersama sang istri, membawa seluruh keluarganya. Selain ingin rileks bersama keluarga, ia juga membiasakan keluarganya untuk berolahraga, paling tidak seminggu sekali. “Dan di sini suasananya enak. Ramai dan gembira,” tegasnya.

Andi memang tertarik dengan berbagai hal yang tersaji di Lapangan Merdeka. Di pinggir lintasan, berjajar para pedagang. Penjual makanan dan minuman disambangi begitu banyak pelanggan. Penjual pakaian khususnya yang berkaitan dengan olahraga mendapat banyak pembeli. Dagangan mainan, dvd/cd, dan hal-hal unik mendapatkan konsumennya sendiri. Di sektor Selatan, tampak para anggota Falun Dafa, bermeditasi dengan gerakan-gerakan yang tertata rapi dan murid walet mempraktekkan kebolehannya melakukan terapi totok darah.

Di bagian timur ada juga mahasiswi yang menyediakan alat cek kesehatan. Mahasiswi kedokteran USU itu menyediakan layanan cek tensi, gula darah dan berbagai penyakit lainnya dengan biaya bervariasi antara Rp. 2.000 hingga Rp. 12.000.

Puluhan orang juga memanfaatkan fasilitas fitnes yang ada di tepi lintasan sebelah barat. Meski sebagian sudah rusak, namun fasilitas tersebut tetap masih bisa dimanfaatkan.

Mentari makin tinggi. Sekitar pukul delapan pagi, di tengah lapangan, instruktur senior Sumatera Utara, Jamilah Aziz, menutup sesi pagi itu dengan gerakan-gerakan yoga. Agak susah, tapi semua peserta tetap berusaha mengikutinya hingga akhir. Musik berhenti dan semua peserta bertepuk tangan dan melepas tawa. Dari atas panggung, terdengar suara… sampai jumpa minggu depan. Para peserta pun menyambutnya dengan balikan badan, membawa pulang senyuman, semangat dan kisahnya sendiri. (Hadi Iswanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s