Let’s Dance! Sway…Sway

Posted: 6 April 2010 in Feature, SPORT

Dansa. Kata ini masih membuat kebanyakan dari kita alergi. Yang katanya nggak cocok dengan budaya timur, atau bahkan disebut haram. Tapi, kalau kata itu diubah menjadi ‘tari’, rasanya biasa saja. Itu karena ketika kita mendengar kata dansa, yang terbayang adalah dua sosok berlainan jenis berpelukan sambil bergoyang-goyang. Only that? No!

Memang sih, tidak terlalu salah. Tapi, jangan berfikir mesum dulu. Citra dansa sebagai ‘perbuatan mesum’ itu tak selalu benar, jika kita mau merujuknya dengan perkembangan dansa di negeri ini. Banyak sisi lain dari dansa yang mungkin belum diketahui orang.
Dansa adalah bentuk seni tari sebagai hasil budaya barat yang telah mendunia. Dalam dansa, gerakan indah penuh pesona menjadi ciri khas yang sangat kentara. Dan sekarang ini, di belahan dunia manapun, termasuk indonesia, dansa berkembang menjadi bagian dari gaya hidup manusia.
In fact, dansa adalah perpaduan dari olah rasa, olah pikir, dan olah raga. Orang bisa berdansa dengan baik kalau dia memiliki kepekaan rasa seni, daya ingat tinggi, dan kemampuan mengendalikan raga. “Dansa itu indah dan bisa membuat kita lebih enjoy,” ungkap Chandra Umar, salah seorang sesepuh dansa Sumatera Utara yang sudah menggeluti dansa lebih dari dua dekade terakhir.
Dansa, bukan sekedar tari. Tapi juga olahraga. Dansa sebagai olah raga? Kalau tidak percaya, silahkan berdansa Jive atau Chacha selama satu jam saja. Kalau tidak sampai menguras energi dan mengeluarkan keringat, maka dansanya pasti cuma khayalan.
Dengan kriteria tersebut, dansa sudah terdaftar sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di PON XVII Kaltim tahun 2008 lalu. Sayangnya, olahraga ini tidak dipertandingkan di PON XVIII 2012 mendatang dengan alasan tidak cocok dengan budaya timur.
Di dunia, dansa juga tengah diupayakan masuk olimpiade, soalnya, ice skating yang mirip dengan dansa jenis ballroom sudah lama jadi bagian dari olimpiade musim dingin.
Organisasi dansa yang diakui secara resmi sebagai anggota KONI adalah IODI (Ikatan Olahraga Dansa Indonesia). IODI juga terdaftar di Federasi Olahraga Dansa Internasional (IDSF).
Menurut Chandra Umar, secara garis besar, dansa digolongkan dalam dua kategori, yaitu dansa Latin dan Ballroom. Dua jenis dansa ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Dansa latin memiliki karakter enerjik, cepat, dan cenderung sensual. Contohnya penyanyi sensual Shakira dan J-LO alias jenifer Lopez. Sedangkan dansa ballroom yang berasal dari Eropa memiliki gerak dasar anggun dan romantis. Di Indonesia, ‘embah’nya Ballroom adalah Si Datuk Maringgih, HM Damsyik.
Yang termasuk dalam dansa Latin antara lain Chacha, Rumba, Salsa, Samba, Jive, Regae, dan beberapa lagi. Sedangkan yang termasuk Ballroom adalah Waltz, Quick Step, Foxtrot, Tango. Di luar kedua golongan tersebut, sekarang populer juga dansa Country (di Indonesia pakarnya adalah Tantowi Yahya), Rock’n Roll, Disco, Blues, dan Dangdut.
Tea dance atau berdansa di sore hari sambil menghirup teh hangat kembali menjadi mode di Inggris. Kebiasaan ini berasal pada masa 1930 dan 1940 di Inggris, dan biasanya berlangsung di hotel-hotel, maupun gedung kesenian.
Pada masa itu, jika orang jago berdansa Quickstep, Waltz, atau Foxtrot, maka akan tinggi pula kesempatan untuk bertemu idaman hati anda yang berasal dari lingkungan berperadaban tinggi.
Dansa ini yang tadinya dipandang sudah ketinggalan jaman, sekarang dianggap lebih trendy dan lebih populer.
Dari waktu ke waktu, dansa terus berkembang. Tak heran, jika Chandra Umar yang kini sudah berusia di atas 60 tahun, dan telah lebih dari dua dekade belajar dansa, terus menggali pengetahuan soal dansa.
Tak cukup memantau perkembangan di Indonesia, Chandra juga cukup beruntung mendapatkan ilmu dari Blackpool Inggris, pusatnya dansa di seluruh dunia. Setiap tahun, kiriman referensi baik CD maupun buku, yang menampilkan dansa terbaru, dikirim keluarganya dari sana. “Begitu dapat, saya langsung menerapkannya kepada murid-murid saya di sini,” ujar Chandra.

Tidak Harus Berpasangan
Sebenarnya, dansa tidak harus dilakukan secara berpasangan. Ada jenis dansa yang dilakukan secara individual, yang disebut line dance. Biarpun dibawakan secara massal, beramai-ramai, tapi setiap orang berdansa sendiri-sendiri, dengan koreografi yang sama. Salah satunya poco-poco atau sa jo jo. Di Medan ada kreasi Fanari Maena yang dipopulerkan alm HT Rizal Nurdin, mantan Gubernur Sumatera Utara.
Medan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, punya banyak penggemar line dance. Beberapa klub biasanya berbentuk sanggar dan fitnes centre atau sekadar organisasi pecinta dansa, sering hadir meramainkan berbagai acara. “Kami sering diundang untuk meramaikan berbagai acara dari mulai senam pagi seperti ini sampai kadang-kadang berdansa di pesta kawinan,” ungkap Prof Hj Djanius Djamin, pimpinan Universal Line Dance (ULD) yang ditemui di sela-sela mengisi acara Car Free Day di Jalan Gatot Subroto, depan Plaza Medan Fair, awal Maret silam.
Kalau mau memasuki suasana ceria rame-rame, memang line dance adalah wahananya. Tetapi jika ingin melihat nuansa yang lebih serius dan artistik yang lebih mendalam, lebih asyik menyaksikan dansa berpasangan. Kombinasi dan keserasian gerak kedua penari akan semakin menonjolkan keindahan gerak tarian. Tapi tentu saja dansa berpasangan memiliki tantangan lebih besar, karena kalau salah satu atau kedua penari salah langkah, akan terjadi tabrakan atau saling injak. Minimal, terlihat geraknya kacau, satu kesono satu kesini, sehingga orang yang tak mengerti dansa pun akan tahu kalau ada penari yang salah. Pada line-dance, karena menari sendirian di tengah keramaian, kalau pun sang penari salah langkah tidak akan terlalu ketahuan.
IODI sudah menciptakan berbagai koreografi line-dance untuk masing-masing jenis dansa, yang diberi nama Indonesia Bersatu atau IB. Jadi ada Chacha IB-1, Chacha IB-2, Rumba IB-3, dan seterusnya. Ada juga koreografi yang disebut dengan Sylabus, yang dibawakan secara berpasangan. Pasangan pun tidak harus pria-wanita, bisa lady-lady.
Jika orang belajar dansa dengan mengacu ke IODI dan standar dansa dunia, maka bertemu dengan penduduk planet Mars pun, asal mereka sama-sama membawakan koreografi dari IODI, mereka bisa langsung berdansa berpasangan. Dalam sebuah kompetisi, selain berpasangan (couple) dansa juga dipertandingkan secara sendirian (single).

Bukan Sekadar Goyang
Hairul, salah seorang instruktur dansa yang juga murid Chandra Umar menjelaskan, seorang pedansa membutuhkan kemampuan menyelaraskan telinga untuk mendengarkan irama musik agar gerak kaki tidak bertentangan dengan irama, kelenturan dan penguasaan gerak tubuh, serta mengingat urut-urutan langkah kaki.
Setiap jenis tarian tentu saja memiliki gerak dasar yang berbeda. Jenis musiknya pun berbeda. Jive merupakan tarian yang paling cepat dan enerjik, dan memiliki tingkat kesulitan tinggi. “Capek lho bang, kalau sudah nge-jive. Biasanya nomor
ini dimainkan untuk yang sudah cukup ahli dan terlatih,” tambah Agus, pedansa Sumut yang baru-baru ini memenangkan kompetisi dansa di Thamrin Plaza bersama pasangannya Lina.
Lagu-lagu populer yang enak untuk mengiringi dansa Jive antara lain “Cotton Field” dan “Be Bop A Lula”. Jive hampir sama dengan Rock’n Roll. Sedangkan Rumba memiliki tempo lebih lambat, langkahnya lebih sederhana, sehingga orang yang baru mulai belajar dansa biasanya mulai dengan belajar Rumba terlebih dahulu. Lagu populer yang memiliki irama rumba antara lain “Something Stupid”, “Si Quires”, kalau lagu Indonesia ada “Aryati”, “Setangkai Anggrek Bulan”. Samba sangat ‘brazilian’, dan seru kalau diiringi lagu-lagu seperti “Mujer Latina” atau “Macarena”.
Yang pasti, dansa bukan sekadar bergoyang. Dansa adalah citarasa, teknik, seni, harmoni dan olahraga dengan gerakan terstruktur. Berdansa dengan teknik yang benar akan terlihat indah. Namun, bergoyang sesuka hati hanya heboh-hebohan saja dan terkadang kesannya jadi norak dan murahan.
Dansa bisa dimodifikasi sesuai dengan batasan-batasan yang kita inginkan. Pakaian tertutup rapat (bahkan berjilbab pun tidak masalah). Gerakan indah namun sopan dan tidak sensual, dan tidak berpasangan dengan lawan jenis yang bukan muhrim, juga tak salah. So, let’s dance! Sway … sway … (hadi)

Komentar
  1. Utet mengatakan:

    Halo
    saya salah satu pecinta tari di medan,
    sudah ikut salsa 1 tahun lebih, blajar sdikit cha cha cha, & skrg lg ikut kelas basic hip hop
    Saya pengen kasih usul buat IODI Sumut ataupun sanggar2 tari di medan
    Sesekali bikin dance gathering dong, jadi sesama penari dari berbagai “aliran” bisa saling kenal dan berbagi ilmu.
    Thanks🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s