Dari Gombal Sampai Pukul-pukulan

Posted: 12 Maret 2012 in OPINI
Tag:, , , , , , , , , , , , , , ,

Oleh: Hadi Iswanto

Kalau dulu, pelawak dikritik karena ideologinya, tapi sekarang dikritik karena moral

 

“Neng, Bapak kamu kerjanya jadi HRD ya?”. “Mang nape Bang?”.  “Soalnya kalo lihat Neng bawaan aku mau ngelamar mulu nih..”

Itulah salah satu rayuan gombal yang sampai sekarang jadi tren di dunia lawak atau humor Indonesia. Entah siapa yang memulai. Tapi saya pertamakali mendengar model rayuan semacam itu dari Andre Taulani di Opera van Java (OVJ) yang tayang di Trans 7 hampir setiap malam. Dan kini, setiap episode selalu ada rayuan baru yang tetap bisa membuat kita tertawa.

OVJ memang fenomenal. Ide acaranya adalah pertunjukkan wayang orang versi modern. Di OvJ, aktor dan aktris yang mengisi acara diberi aba-aba untuk berimprovisasi tanpa menghafal naskah sebelumnya, dengan panduan seorang dalang.

Di dunia lawakan (humor atau komedi), model ini memang kreatif dan baru. Sangat berbeda dengan penampilan grup lawak Warkop, Bagito, Srimulat dan model lawakan lainnya. Namun, model lawakannya mungkin agak mirip dengan Srimulat atau ketoprak humor.

OVJ Sebagai grup lawak yang eksis di masa sekarang, Grup lawak OVJ ini selalu memberikan lawakan segar yang up to date. Walaupun konsep utamanya adalah wayang manusia, tapi kadang topik yang dibawakan sebagai lawakan adalah hal-hal mengenai isu terkait yang sedang merebak pada saat masa tayang. Dengan Parto sebagai sang dalang serta Sule, Azis gagap, Andre, Nunung, sebagai wayang sekaligus bintang utamanya, lawakan OVJ selalu memberikan warna dan corak khusus pada dunia humor indonesia.

Setiap era selalu memunculkan ikon-ikon baru. Nah ikon lawak saat ini adalah OVJ. Hasil survei MarkPlus terhadap kaum muda tahun 2010 lalu mengungkap, OVJ adalah program acara televisi yang paling disukai anak muda. Banyak ide dan tingkah polah yang meniru-niru acara ini. Bukan cuma tertawa yang didapat, tapi tren-tren baru pun mengalir ke dunia nyata. Dunianya orang dewasa dan anak-anak.

Dalam dunia media televisi dan radio, unsur komedi memang termasuk faktor penting untuk menggaet segmen anak muda. Ada tema-tema lain yang juga menarik minat anak muda, seperti tema roman asmara dan sosial politik.

 

Tuntutan Televisi

Lawak, komedi atau humor, memang hiburan yang menyenangkan. Tak heran jika program lawakan selalu mampu mengangkat rating sebuah media televisi. Meskipun menurut survei, rating teratas masih dikuasai televisi program berita, namun dalam deretan program hiburan, lawak masih tetap jadi andalan.

Banyak orang yang sudah bosan dengan berita-berita panas politik dan masalah negara yang tak kunjung selesai, justru memilih program lawak atau film, karena cuma itu yang bisa lebih menghibur.

Trans Grup yang cenderung menyajikan program hiburan, paling getol menyajikan program-program lawak. Lawakan bukan cuma di program khusus seperti OVJ atau Comedy Project saja, tapi juga talkshow hingga program khusus yang sifatnya mengerjai orang.

Grup MNC menggunakan Global TV sebagai televisi hiburan dengan ragam sitkom. Srimulat junior di ANTV. Ada juga audisi orang lucu Indonesia (OLI) yang akan tayang di RCTI sebuah model pencarian bakat yang dulu pernah digelar TPI (sekarang MNC TV) dengan nama Audisi Pelawak Indonesia (API). Model-model audisi ini memang terbukti mampu melahirkan pelawak-pelawak baru, salah satunya Sule.

Tak ketinggalan, Metro TV yang kini mulai konsen ke program hiburan ketimbang berita, juga tampil menggigit pemirsanya dengan tayangan stand up comedy dan MIC. Lawak model orasi ini sudah lama kita kenal, dan come back-nya di televisi sejak 2011, memang cukup menarik. Kata mereka, stand up comedy adalah komedi cerdas.

Apapun itu, lawak atau komedi jika menyangkut televisi, bukan soal cerdas atau tidak cerdas. Tapi soal lucu atau tidak lucu. Dan kelucuannya bisa dimengerti banyak orang atau cuma sebagian orang saja. Bicara televisi, berarti bicara rating. Kalau sebuah komedi tidak lucu lagi, walaupun cerdas, hanya akan jadi sampah.

Lawakan dan televisi memang tidak bisa dipisahkan. Kalau sebelum era informasi berkembang seperti sekarang ini, film-film komedi masih laris, lawak merakyat di pentas-pentas wayang, ketoprak, ludruk dan hiburan rakyat. Sekarang banyak warisan hiburan rakyat yang hilang. Lewat televisi, lawak sudah tersaji di ruang tamu dan gratis.

Bukan cuma masyarakat yang tergantung televisi, standar kualitas lawakan dan tontonan kita juga mengacu pada televisi. Indro Warkop yang tenar dengan grup Warkop mengakui sekarang lawakan kurang berkualitas karena kebanyakan cuma becandaan, bukan lawakan. Kalau dulu, pelawak dikritik karena ideologinya, tapi sekarang dikritik karena moral. Padahal banyak juga pelawak yang sarjana, tapi tidak mengambil komedi yang cerdas.

Di satu sisi, Indro ada benarnya. Namun pertanyaannya, komedi cerdas seperti apa yang dibutuhkan penonton (urusannya ke media). Lawakan alias guyonan politik saat ini juga sudah tidak menarik lagi.

Dan jaman memang sudah berubah. Semuanya harus up to date, termasuk lawak. Dulu, kita menyaksikan lawakan dari sedikit televisi (dulu cuma TVRI) dan program lawak satu minggu sekali. Tapi sekarang karena program itu laris, tayangan pun dibuat harian.  Lawak tak cuma ada di sebuah program khusus saja. Tapi juga merambah ke program musik, talkshow hingga reality show.

Yang jadi masalah, lawakan kita menyajikan sosok yang itu-itu juga dan ide-ide yang kurang lebih sama. Sulit membayangkan betapa lelahnya para pelawak memeras energinya untuk membuat ide setiap hari. Jadi jangan heran jika pelawak dan program lawak di televisi dulu bisa eksis puluhan tahun, pelawak sekarang mungkin hanya eksis beberapa tahun saja karena lawakan mereka sudah tidak lucu lagi. Orang-orang sudah bosan, rating program lawaknya merosot tajam sebelum akhirnya hilang.

 

Kurang Mendidik

Seorang teman bilang bahwa ia bukannya anti tayangan lawak. Bahkan ia suka menonton beberapa program lawak. Tapi, ia tidak nyaman jika harus nonton bersama anak-anaknya.

Dalam sebuah tulisannya di kompasiana, Om Widi mengungkapkan; lawak lucunya kalau: mengejek orang lain, ngerjain orang lain, kurang ajar terhadap yang jauh lebih tua, sok kebanci-bancian, sok kelatah-latahan, ngerusak barang (properti), sekedar plesetan, bersikap kebloon-bloonan.

Ya lihat saja program lawak yang umumnya tayang di jam-jam primer antara pukul 19.00 hingga 22.00 WIB. Banyak materi yang digunakan untuk membuat para pemirsanya tertawa adalah ejek mengejek, pukul memukul, dan hal-hal yang berbau dewasa marak ditampilkan. Dan materi tersebut sangat berhasil karena kita memang suka dengan lelucon ‘nakal’.

Jika hanya untuk hiburan saja tentu materi tersebut sangat pas. Tetapi, masalahnya semua kita cenderung menirunya. Televisi sudah memasyarakatkan ide-ide lawakan seperti menjadi banci, memukul dengan barang-barang di sekitarnya, ejek mengejek, ungkapan-ungkapan dewasa, penampilan yang jorok dan asal-asalan. Positif atau negatif, semuanya bisa jadi tren.

*Penulis pemerhati sosial dan menekuni bidang jurnalistik

= Tulisan ini telah dimuat di harian Waspada, Senin, 12 Maret 2012

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s