Oleh Hadi Iswanto

Bergembiralah atau saya tembak. Pernyataan pada karikatur dalam sebuah buku itu, sedikit mengusik saya. Sederhana tapi penuh makna. 

Gembira – atau lebih mendalam lagi; bahagia — adalah bagian terpenting dari standar kesuksesan. Apapun defenisi seseorang tentang kesuksesan harus ada kata ‘bahagia’ di dalamnya. Jika tidak bahagia, maka yang ia capai cuma kesuksesan palsu.

Bahagia tidak selalu dikaitkan dengan harta maupun kemampuan untuk memenuhi segala kebutuhan. Karena bahagia tidak bisa diukur dengan harta atau sebuah pencapaian yang luar biasa. Karena jika demikian, orang yang tidak memiliki apapun atau kehilangan apapun, tidak berhak bahagia. Tapi kenyataannya, bahagia bisa dimiliki siapa saja, dalam situasi apapun.

“Membeli status tidak memberi Anda kepuasan mendalam.

Ini disebut kemiskinan spiritual.”

Kebahagiaan tidak ditentukan oleh apa yang terjadi pada hidup kita, tetapi oleh cara kita bereaksi terhadap apa yang terjadi (Andrew Mattheus, Being Happy). Dalam situasi yang sama, dua orang berbeda bisa menanggapinya dengan cara berbeda pula. Andri dan Budi sama-sama terpaksa di PHK oleh bosnya karena perampingan, sehubungan krisis di perusahaan tempat mereka bekerja. Andi yang sudah lama memendam cita-cita untuk memiliki usaha sendiri merasa bahwa inilah kesempatan baginya untuk benar-benar memulai. Selama bekerja, ia ragu-ragu untuk fulltime membangun impiannya itu, tapi setelah di PHK, ia dengan senang hati mulai memikirkan usahanya meski dengan modal kecil dari tabungannya selama bekerja. Usaha menjual pisang goreng spesial resepnya pun dia mulai. Hasilnya luar biasa. Ia kini memiliki banyak outlet yang dibangunnya dengan prinsip waralaba.

Temannya, Budi, punya kondisi sama saat di PHK. Sama-sama punya modal tipis karena mereka berdua cuma karyawan rendahan. Tapi Budi menyikapi keputusan perusahaan dengan cara yang tragis. Ia merasa harapannya untuk berkaris sudah pupus. Tidak lagi punya gaji, dan bergantung pada uang tabungan yang tidak seberapa. Kini ia merasa semua orang merendahkannya karena ia sekarang cuma seorang pengangguran. Setiap hari ia merenung dan hidupnya dihantui dengan ketakutan-ketakutan tentang masa depannya yang suram, soalnya usianya sekarang sudah tidak muda lagi.Padahal usianya baru 30-an. Akhirnya, ketakutan-ketakutannya benar-benar terjadi, karena ia telah kehilangan harapan.

Kisah ini menggambarkan kepada kita bahwa dalam situasi yang sama, seseorang bisa merasa gembira, sementara yang lain merasa sedih, bahkan sampai bunuh diri. Yang satu menganggapnya kesempatan sedangkan yang lain merasa ini sebagai bencana.

Sama dengan sukses, bahagia juga tidak memiliki standar umum. Banyak orang yang kehidupannya biasa-biasa, tapi begitu bahagia dan menyambut orang-orang yang datang ke rumahnya dengan senyum tulus, dan melayani dengan penuh semangat. Setiap yang datang disuguhi teh manis hangat dan cemilan ringan. Bahkan selalu di ajak makan bersama saat waktu makan tiba.

Tapi di sebuah rumah mewah, sambutan begitu dingin. wajah-wajah lelah dari tuan rumah yang seharian bekerja, masih tampak sehingga para tamu merasa tidak disambut dengan menyenangkan. Pembantu mereka menyiapkan semuanya. Dari lantai dua, terdengar suara sang istri yang marah-marah melihat anak-anaknya bermain game di dalam kamar sepanjang hari. Sungguh tidak menyenangkan.

Pada kenyataannya, banyak orang tidak bahagia dalam hidupnya. Mereka tidak benar-benar menikmati dan bersyukur pada apa yang sudah dianugrahkan Tuhan kepadanya.

Banyak orang juga tidak bahagia karena terlalu memikirkan hal-hal yang di luar jangkauannya. Menghabiskan energi untuk mengubah sesuatu yang tidak bisa atau belum bisa diubah. Menyesali kenapa hidup di masa sekarang yang penuh dengan kesulitan, kenapa BBM naik, kenapa SBY tidak mampu mengatasi korupsi, kenapa kemiskinan dimana-mana, bagaimana seandainya Israel berperang dengan Iran dengan dukungan Amerika Serikat?

Kecuali Anda seorang pembuat keputusan, Anda tidak seharusnya berfikir keras soal isu-isu dan berita-berita di media. Menyelamatkan dunia membuat Anda lelah dan tidak bahagia. Jangan memaksakan diri. Tapi mulailah putuskan untuk mengubah diri Anda menjadi pribadi yang gembira dan menyenangkan. Lalu sebarkan sikap itu bersama keluarga dan lingkungan. Dengan begitu Anda kelak bisa mengubah dunia!

Menjadi Kaya dan Bahagia

Di satu sisi, kita selalu diingatkan bahwa kemiskinan akan mendekatkan kita pada kekufuran (hadis Nabi Muhammad SAW). Kufur sama dengan kesengsaraan yang paling buruk dan tiada habisnya. Itu artinya kita harus menjauhi kemiskinan.

Tapi harus ingat, kekayaan juga bisa menjadikan Anda pribadi yang sesat karena tidak benar-benar memanfaatkan kekayaannya untuk jalan kebaikan. Bersikap kikir, tidak mau menafkahkan hartanya untuk orang yang membutuhkan dan menggunakan harta untuk perbuatan maksiat.

Kebahagiaan tidak dapat dibeli di mal. Anda bisa membeli segala keinginan duniawi Anda di sini, tapi itu hanya terapi kebahagiaan sementara. Sebagian orang belanja adalah bagian penting dalam mengisi waktu luang. Berfikir tentang tas model baru, pakaian yang tren, model rambut yang sedang ‘in’ hanya menyenangkan sementara.

Seseorang memaksakan diri untuk membeli gaya hidup. Memaksakan diri membeli mobil dengan gaji PNS yang tidak seberapa. Akhirnya, ia melakukan beragam cara untuk membayar harga kemewahan yang sebenarnya belum pantas dimilikinya.

Membeli status tidak memberi Anda kepuasan mendalam. Ini disebut kemiskinan spiritual.

Jika kekayaan dan gaya hidup tidak bisa membuat kita kaya, apa yang bisa?

Berbagilah

Cara terbaik untuk merasa dengan dengan diri Anda sendiri adalah melakukan sesuatu kebaikan kepada orang lain. Kekhawatiran pada diri dan mengasihani diri sendiri hanya membuat diri makin sengsara. Begitu Anda membuat orang lain bahagia, Anda akan merasa lebih baik. Itu otomatis. Sederhana dan menyenangkan. Bukankah sudah ditegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi manusia lain? (Hadits Nabi Muhammad SAW).

Berbagi juga tidak memandang miskin atau kaya. Setiap orang bisa berbagi dengan kemampuannya masing-masing.

Dalam ajaran agama manapun diajarkan bagaimana kita menjadi pribadi yang mau berbagi harta maupun kebaikan. Islam mengajarkan sedekah, zakat dan aktifitas sosial lainnya karena ini merupakan fitrah kita sebagai Hamba Allah SWT. Jika tidak, bukan hanya rasa tidak bahagia di dunia yang didapat tapi juga azab di akhirat. Sebaliknya, orang yang menafkahkan hartanya untuk kebaikan akan diberi balasan berlibatganda (Qs.Al Baqarah 261, Al Hadid 18, At-Talaq:2-3).

Biarkan Hari Esok Datang

Lakukan yang terbaik hari ini dan biarlah hari esok datang dengan sendirinya. Mari kita jalankan aktifitas dan tunaikan kewajiban kita hari ini. Bekerja dan beribadah sebaik-baiknya serta tuntaskan apa yang harus dikerjakan hari ini.

Kita boleh optimis dan memiliki cita-cita akan hari esok, tapi jangan khawatir dan takutkan hari esok. Hari esok belum terjadi dan belum jelas bagi kita, mengapa kita mengkhawatirkan malapetakanya? Mengapa kita khawatir terhadap sesuatu yang buruk menimpa? Mengapa selalu meramal sesuatu yang tidak menyenangkan di hari esok?

Jangan kita terbawa oleh ramalan kemiskinan, kesulitan, kelaparan, penyakit dan bencana di hari esok, agar kita tidak dihantui perasaan cemas dan takut. Jauhkan semua itu karena itulah yang disukai setan (QS Albaqarah 268).

Jangan menghabiskan banyak waktu hari ini untuk mencemaskan masa depan. Jangan pernah menunggu datangnya hari esok, tapi berkaryalah hari ini, Insya Allah hari esok lebih baik.

Lihat Anak Kecil

Saat kecil kita adalah pribadi yang menyenangkan. Tidak memikirkan kesusahan, walaupun mungkin kita lahir di keluarga miskin. Melakukan apa yang ingin dilakukan, tanpa ragu. Selalu berusaha dan jatuh bangun berulangkali untuk bisa berdiri tegak.

Bermain gembira meski hanya dengan mobil dari kulit jeruk Bali atau pesawat dari kertas. Kini setelah memiliki mobil betulan dan naik pesawat sungguhan, kenapa banyak orang tidak bahagia?

Orang dewasa senantiasa mengatur anak-anak kapan tidak boleh bermain. “jangan mandi hujan nanti sakit, jangan naik nanti jatuh dan banyak aturan lain sehingga banyak spontanitas alami kita hilang.

Saat anak-anak kita tidak peduli apakah sesuatu itu sempurna atau tidak. Tapi ketika dewasa kita berharap semuanya berjalan sempurna sesuai dengan pikiran yang kita bentuk (idealisme).  Hidup tidaklah seserius itu. Anda hanya harus memutuskan bahwa Anda selalu bahagia dan berbagi kebahagiaan dengan banyak orang. Buang rasa cemas, gembiralah. Seperti judul lagu Bobby McFerrin (1988) yang belakangan jadi slogan perusahaan asuransi; Don’t Worry be Happy!

Penulis masih aktif menggeluti bidang jurnalistik

=Tulisan ini telah terbit di harian Jurnal Medan edisi Sabtu, 10 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s