Becak Siantar: Tak Lekang Termakan Zaman

Posted: 28 September 2012 in Feature, SPORT

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Belum banyak yang berubah saat kami mengunjungi Kota Pematang Siantar. Masih asri, meski dikelilingi oleh beragam industri. Dan kota ini masih menjaga berbagai ikon yang mendunia. Salah satunya; becak Siantar.

Kebetulan, kunjungan kami kali ini bertepatan dengan parade dan lomba becakk hias khas Pematang Siantar. Tak heran, jika suasananya sangat ramai. Apalagi yang menghadiri parade lebih dari 100 becakk ditambah puluhan sepeda motor tua dari jenis yang sama. Mereka yang tergabung delam BSA Owner Motorcycle Siantar (BOM’S) sama-sama menunggangi motor tua bermerek Birmingham Small Arm (BSA) dalam rangka memeriahkan Festival Internasional Pemuda dan Olahraga Bahari (FIPOB) IV 2009.
Unik, langka dan bersejarah. Ketiga karakter itu sangat cocok untuk menjadikan becak Siantar sebagai salah satu situs yang mesti dilindungi.
BSA masuk ke Indonesia pada masa peralihan tentara Jepang ke tentara sekutu (Belanda-Inggris) sekitar tahun 1948. BSA yang dibawa oleh Belanda kemudian menyebar di setiap daerah jajahannya. Ketika penjajah minggat dari Indonesia, motor-motor BSA kehilangan tuannya.
Ke Siantar, BSA mulai masuk sekitar tahun 1958. Orang Siantar mendatangkannya dari pulau Jawa: Surabaya dan Jakarta. “Dulu, banyak jenis sepeda motor yang masuk ke Siantar. Tapi kemudian hanya BSA yang bertahan,” ungkap Mbah Lanang, salah seorang sesepuh yang mengenal seluk beluk Becak Siantar.
Yang membuat BSA bisa bertahan, kata Mbah Lanang, karena mesinnya kuat dan cocok dengan geografis Kota Pematang Siantar yang bergelombang. Lagipula, mesinnya sangat sederhana dan mudah diperbaiki.
Lelaki kelahiran Pematang Siantar, 1 Februari 1941 ini sudah menarik becak sejak tahun 1960-an.  Tak lama setelah menikahi Atom Saragih tahun 1963, Mbah Lanang membeli sendiri becakk siantar. Saat itu, harga becakk siantar bermesin sepeda motor BSA tipe ZB31 sebesar Rp 220.000. Kalau dihitung-hitung, terbilang cukup mahal bagi lelaki bernama asli Kartiman ini yang dulunya hanya penjaga penitipan sepeda di Pasar Horas.
Pada tahun 80-an, sambil menarik becak, Mbah Lanang juga menjalankan profesi jual beli BSA. Ia merambah ke Pulau Jawa, karena di sana motor BSA banyak yang dibiarkan dalam gudang. Proses masuknya BSA ke Pematang Siantar berlanjut  hingga dekade akhir 80-an. Dan menurut Mbah Lanang, pada era 90-an ketika jumlahnya hingga 2000-an, justru terjadi titik balik. Kota ini mulai terkenal dengan becaknya ke seantero dunia. para kolektor pun mulai berburu barang antik tersebut.
“Kolektor sepeda motor tua membelinya dengan harga puluhan juta. Saat jumlah BSA mulai berkurang, baru orang sadar kalau dibiarkan terus bisa tidak ada lagi yang tersisa di Pematang Siantar,” ujar ayah empat anak ini.
Ketua BOM’S H Kusma Erizal G SH MBA juga tak kalah giat dalam menentang rencana Pemerintah Kota Pematang Siantar dan DPRD setempat untuk melakukan peremajaan becak motor beberapa tahun lalu. Dengan perda tersebut, memungkinkan sepeda motor baru buatan Jepang atau China menjadi penarik becakk di Pematang Siantar.
Erizal, amat gigih memperjuangkan BSA karena memang memang produk ini sudah jarang ditemukan di dunia. Bahkan di negara BSA diproduksi, BSA sudah menjadi barang langka. Soalnya pabrik kendaraan roda 2 dengan cc besar ini telah terbakar tahun 1972 dan tidak dihidupkan lagi.
“Lokasi pabriknya telah berkembang menjadi lokasi stadion utama klub sepak bola Birmingham sekarang ini,”terang pria tampan yang sudah pernah melakukan perjalanan ke daerah asal BSA tersebut.
Pada tahun 1980-90an, ada sekitar 2000-an ranmor BSA di Siantar. Angka tersebut yang tertinggi di seluruh dunia, bahkan dibanding Inggris sendiri. Hanya saja, angka estimasi terakhir, BSA di siantar tinggal sekitar 800 unit.
Berkat perjuangan para pemilik BSA, akhirnya Pemko Siantar balik mendukung aktifitas mereka. Bahkan dua tahun terakhir, pemerintah setempat membantu rehabilitasi dengan membiayai pengecatan dan memutihkan status BPKB becak-becak. Secara resmi, becak tua ini dinyatakan sebagai cagar budaya yang harus dilindungi.
“Kami akan berupaya agar becak-becak ini tetap bertahan sebagai salah satu ikon dan daya tarik kota,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Pemko Pematangsiantar, Drs James Lumbangaol.
Bersama Kadisporabudpar Pematangsiantar Drs Nelson Siahaan yang ditemui di sela-sela parade beca dalam rangka FIPOB, Minggu (14/6) lalu, James amat lega dengan perkembangan becak Siantar. Pemerintah, akan lebih fokus pada pembenahan kendaraan becak dan memberikan pemahaman kepada pengemudi becak tentang pentingnya tertib lalulintas.
Kegiatan Parade dan Lomba Becak Hias Siantar ditangani langsung oleh Kadispora Budpar setempat Drs Nelson Siahaan. Menurutnya, dari 255 peserta, 125 beca hias, 100 beca konvoi dan 30 dari para biker BOM’S.
Acara tersebut ditutup oleh Asisten I Pemko P Siantar Johnson Sumanjuntak SE sekaligus menyerahklan hadiah bagi 10 pemenang. Mereka adalah Bambang Suprianto (Betor), Suryadi, Yatmianto, Ahmad Syafii, Agus Syahputra, Abdul Gani, Kamal, Tomi, Iwan.

Teknisi Handal
BSA yang beredar di Pematangsiantar umumnya dibuat tahun 1941, 1948, walaupun ada yang lebih baru buatan 1952 dan 1956. Meski usianya rata-rata sudah di atas 60 tahun, ratusan motor antik ini masih bisa beroperasi. Kelangkaan suku cadang karena tidak lagi dijual di pasar, ternyata tidak terlalu jadi masalah buat mereka. Soalnya, para ahli BSA muncul dengan sendirinya karena keterdesakan. Ya, mereka didorong oleh keinginan agar nasib BSA Siantar tidak sama dengan Surabaya dan Jakarta yang sudah mati.
“Cuma di Siantar ada pabrik onderdil becakk dan teknisi-teknisi andal. Nah, ketika BSA itu rusak terpaksa dipanggil teknisi dari Siantar untuk memperbaiki. Tak sedikit motor BSA yang terpaksa kembali ke Siantar,” kata Erizal.
Salah satu teknisi handal tersebut adalah Sutikno. Ia membuka bengkel di kediamannya, kawasan Beringin, pinggir kota Pematangsiantar. Pak Tikno, begitu ia biasa disapa, dikenal sebagai ahli sistem pengapian BSA yang sudah banyak memperpanjang hidup becak-becak Siantar. “Masalah utama BSA ya di sistem pengapiannya. Kalau itu bagus, biasanya tetap bisa jalan,” ungkap Tikno yang memiliki beberapa becakk.
Tikno sendiri tidak meminta bayaran mahal atas hasil kerjanya. Yang penting, para tukang becak dan pemilik becak bisa terbantu. Hitung-hitung, turut andil dalam melestarikan ikon budaya Siantar. “Saya juga narik becak dan sekarang sudah punya becak sendiri. Kami berharap bisa saling bantu agar becak-becak tua bisa terus jalan,” tekadnya.
Selain Tikno, ada beberapa bengkel lain yang juga punya andil dalam menyelamatkan BSA. Semuanya punya satu harapan dan tujuan agar BSA tetap bisa bertahan, tak lekang termakan jaman. (Hadi Iswanto)

*Tulisan ini dibuat sekitar awal Juli 2009 dan terbit di Tabloid Gelora. Disimpan ulang, biar tetap abadi. hehehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s