Lima Pilar Olahraga Harus Diberi Prioritas yang Sama

Posted: 7 Februari 2013 in news, SPORT

mazrinal“NPC, Formi, Bapomi dan Bapopsi sebenarnya setara dengan KONI”

Lima induk organisasi olahraga yang merupakan pilar penting dalam peningkatan prestasi dan pemassalan olahraga, harus diberikan hak yang sama oleh pemerintah. Karena kelimanya punya peran dan fungsi berbeda, namun sama pentingnya.
“Yang kita tahu selama ini cuma KONI yang disupport langsung oleh pemerintah, padahal secara struktur kita punya wadah organisasi lain yang secara undang-undang setara dengan KONI yakni NPC, Formi, Bapomi dan Bapopsi,” tegas Kasi Olahraga Masyarakat Dispora Sumut Mazrinal Nasution MAP kepada Metro 24 Jam, kemarin.
KONI (Komite Olahraga Nasional) merupakan wadah olahraga prestasi baik di level daerah maupun nasional. Tugasnya cuma membina atlet-atlet terbaik yang dihasilkan oleh induk organisasi olahraga di tingkat propinsi (Pengprop) maupun tingkat kabupaten/kota (Pengkab/Pengkot).
NPC atau National Paralympic Comitte bertugas mewadahi pembinaan olahraga bagi orang-orang dengan keperluan khusus baik cacat fisik maupun keterbelakangan mental. Di Indonesia juga dikenal organisasi serupa yakni Special Olympics Indonesia (SOIna).
Formi yang merupakan akronim dari Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia, berperan membina olahraga maupun permainan atau tradisi yang berkembang di masyarakat. Contohnya senam, gasing, gebuk bantal, dagongan, enggrang dan sebagainya.
Di tinggat olahraga mahasiswa ada Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (Bapomi). Sedangkan di level pelajar pembinaan dinaungi Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (Bapopsi).
“Sayangnya, justru Bapomi, Bapopsi dan NPC kesannya di bawah ‘ketiak’ KONI karena mereka masuk dalam badan fungsional. Sedangkan Formi malah sama sekali tidak dianggap,” tegas Mazrinal yang sudah lama mengabdi di Disporasu.
Kesimpangsiuran inilah semestinya diluruskan kembali. Tujuannya agar masing-masing organisasi bisa berjalan dengan semestinya dengan dukungan penuh dari pemerintah. “Jadi tidak cuma KONI saja yang punya peran. Selama ini kan kesannya cuma KONI yang berhak atas dana olahraga,” tambahnya.
Mazrinal juga menilai pembinaan olahraga di Indonesia selama ini hanya memandang tataran di atas saja. Kalau berprestasi, maka sudah baik. Namun, kita sering melupakan pembinaan basic di kalangan anak-anak usia dini.
Jika bicara usia dini, menurut Mazrinal, hitungannya dimulai sejak anak-anak bisa berkomunikasi dengan baik hingga usia sekolah dasar. Di saat inilah, kita butuh guru-guru yang memahami dasar-dasar olahraga sekaligus bisa mendorong dan menanamkan pada anak-anak tentang pentingnya berolahraga.
“Selama ini, kita lihat olahraga di sekolah tidak ditangani dengan terstruktur dan diatur dengan baik melalui kurikulum. Semuanya jalan sendiri-sendiri dan apoa adanya saja. Bahkan pelajaran olahraga sama sekali tidak diperhitungkan dan kerap disamakan dengan main-main,” kata Mazrinal menyayangkan.
Problem berikutnya adalah semakin menurunnya jumlah klub-klub olahraga. Ia mencontohkan, dulu banyak klub atletik bermunculan baik yang digalang sekolah maupun klub dari sponsor. Tapi sekarang di Medan nyaris tidak ada klub yang aktif. Di daerah, pembinaannya juga hanya tergantung bakat alam.
Kondisi ini berimbas pada prestasi di tingkat daerah maupun nasional. Mazrinal merasa ia merasa bahwa minimnya pembinaan usia dini dan merosotnya jumlah klub olahraga berpengaruh pada perekrutan atlet di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Sumut.
“Kita merasa bahwa atlet PPLP yang kita pilih dari seluruh daerah tidak optimal karena potensi-potensi di daerah sudah berkurang,” katanya. (hadi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s