Soal Lahan Sirkuit: Aneh, PT MD Beli Tanah Tidak Tahu Lokasi

Posted: 7 Februari 2013 in news, SPORT

sirkuit pancingAda hal aneh yang terungkap pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) mengenai
penjualan aset Pemprovsu di Aula DPRD Sumut, Selasa (5/2). Pertama, PT
Mutiara Development (MD) mengaku tidak menduga kalau lahan yang mereka beli juga
termasuk areal sirkuit yang kini jadi pemicu sengketa. Kedua, munculnya nama
PT Binatama Babura Makmur yang mengaku sebagai pembeli pertama dari PT
Pembangunan Perumahan sebelum dijual kembali ke PT Mutiara Development.
“PT Mutiara Development tidak menduga lahan yang kami beli termasuk sirkuit.
Setelah dilakukan pengukuran berulang-ulang baru ketahuan,” ungkap salah
seorang perwakilan PT Mutiara Development Herry Sitompul.
Ungkapan itu langsung mendapat respon dari audiens termasuk Pimpinan
Sidang, Ketua Komisi E DPRD SU Zulkifli Hasan dan Ketua Komisi C, Zulkarnain
dan Ketua Komisi A Isma Fadli.
Berdasarkan data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Deliserdang,
penjualan lahan yang termaktub dalam sertifikat HGB no 1112 dan 1113 tahun
1997 atas nama PT Pembangunan Perumahan (PP), terjadi pada tahun 2011. Atau
tercatat dalam akta jual beli no 194 tertanggal 29 April 2011. Anehnya,
pembelian tersebut dilakukan hanya 4 bulan setelah sirkuit road race selesai
dibangun setelah melalui tiga termin APBD. Pengucurannya secara bertahap
dimulai pada 2007 senilai Rp1,7 miliar, tahun 2008 senilai Rp900 juta dan tahun
2010 senilai Rp3,7 miliar. Semuanya sudah ditetapkan melalui Peraturan
Gubernur (Pergub).
Dispora Sumut diwakili Kasubdis Sarana Prasarana Drs Sujamrat Amro bahkan
sampai terkejut ketika tiba-tiba muncul plank kepemilikan dari PT Mutiara
Development.
Ketika pada RDP kemarin menyebutkan kalau mereka tidak menduga kalau
sirkuit dalam lingkup lahan mereka, anggota dewan langsung melontarkan
kecurigaan.  “Sangat aneh sekali jika developer membeli lahan tanpa mengecek
terlebih dahulu bentuk dan keberadaan lahan tersebut,” ungkap Zulkifli Husein.
“Kenapa sudah 3 kali dana APBD dan tiga kali Peraturan Gubernur (Pergub)
untuk membangun sirkuit tersebut pada 2007, 2008 dan 2010, tidak ada
komplain? Terus kenapa sampai terjadi transaksi penjualan pada tahun 2011.
Kalau kita punya tanah, satu pohon pisang ditebang orangpun kita tahu. Ini lahan
di bangun sirkuit dan digunakan balapan masa tidak ada komplain,” tambahnya.
Ketua IMI Sumut Ijeck yang hadir bersama jajarannya hanya berperan sebagai
pengelola area sirkuit. Pihaknya ingin masalah ini bisa ‘clear’ sehingga mereka
bisa mengggelar even dengan tenang. “Kami hanya menjalankan tugas
berdasarkan MoU dengan Pemprovsu sebagai pengelola sirkuit. Jadi kami tidak
izinkan siapapun mengganggu lahan sirkuit,” tegasnya melalui Ketua Harian John
Lubis.

Kok Muncul PT Binatama?
Lebih aneh lagi PT Binatama Babura Makmur yang selama ini tidak ‘diungkap’
dan tidak diundang ke pertemuan, tiba-tiba muncul dalam rapat tersebut dan
mengaku sebagai pembeli pertama lahan tersebut dari PT PP. Hal tersebut
dibenarkan oleh perwakilan PT PP. Menurut mereka, pada 1997, mereka diminta
Pemprovsu untuk membantu menjual lahan tersebut agar bisa menambah dana
untuk pembangunan Gedung Kantor Gubsu.
Zakaria Bangun selaku perwakilan dari Pt Binatama bahkan menegaskan bahwa

pihaknya telah menyerahkan uang senilai Rp16 miliar lebih pada 6 Mei 1997

kepada PT PP. Selanjutnya, PT PP mentransfer dana tersebut ke rekening kas

Pemprovsu di BPD Sumut (Sekarang Bank Sumut,red).
Nah, kemunculan PT Binatama ini sangat aneh karena menurut laporan yang

disampaikan BPN Deliserdang dalam rapat kemarin, pihaknya hanya memberikan

hak HGB pada 1997 kepada PT PP yang totalnya seluas 60 hektar. Lalu pada 29

April 2011, terjadi pembelian dari PT PP ke PT Mutiara Development.
Menurut Israel Situmeang dari Aliansi Masyarakat Pecinta Otomotif (AMPO),

PT Binatama Babura Makmur sebenarnya cuma perantara jual beli, bukan

merupakan pembeli dari PT PP. “Sejak 1997, surat kuasa masih dipegang oleh PT

PP. Jadi transaksi sebenarnya terjadi antara PT PP dengan PT Mutiara

Development,” tegas Situmeang.
Yang mengherankan, perwakilan PT Binatama, Zakaria Bangun bersikeras kalau

mereka adalah pembeli dan pemilik hak lahan tersebut. Diduga, BPN sengaja

‘menyembunyikan’ keberadaan PT Binatama dengan tidak memasukkannya

dalam riwayat jual beli. “Kalau setiap terjadi transaksi kan ada PPH dan  BPHTB

(Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan). Bayangkan saja kalau 16 miliar,

15 persen PPH saja sudah berapa? Mungkin dana itu dimainkan,” ungkap salah

seorang sumber Metro24Jam.
Kemarin, Zakaria Bangun yang mengaku sudah lelah diperiksa polisi hingga

jaksa, berani mengklaim sudah melakukan prosedur yang benar dalam proses

pembelian dan penjualan. Namun anggota dewan masih akan melakukan
penelusuran lebih jauh mengenai kasus ini. Tujuannya agar tidak terjadi lagi
penjualan aset negara.
Para anggota dewan sangat antusias dengan kasus penjualan aset negara ini
karena pada Senin (4/2), Kejatisu telah menetapkan 2 tersangka. Mereka
adalah mantan Kepala Cabang PT PP Ir Supriadi dan Direktur PT PP Daryatmo.
Namun Zulkufli menyayangka ketidakhadiran Kepala Biro Perlengkapan dan
Perawatan (Kapwat) Pemprovsu dalam rapat tersebut. Padahal, Biro Kapwat
merupakan pihak yang terkait erat dalam persoalan tersebut.
“Kita akan rapat kembali dengan menghadirkan Biro Kapwat,” tegas Ketua
Komisi A Isma Fadli.
Sekitar 15 pejabat di BPN, Pemprovsu dan PT Mutiara Developmentjuga sudah
diperiksa secara marathon dalam kasus ini. Pihak Kejatisu menduga adanya
korupsi dan gratifikasi (pemberian komisi) dalam penjualan aset tersebut.
“Kami juga ingin tahu kenapa sudah ada tersangka dalam kasus ini. Ini bukan
kasus main-main lagi. Kalau Kejaksaan sudah menetapkan tersangka berarti
sudah cukup bukti untuk mengungkap kasus tersebut,” tegas Isma. (hai)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s