Gosok-gosok Sedikit Jadi Duit

Posted: 13 Desember 2014 in Feature, Ini Medan Bung

INI bukan zaman batu. Tapi fenomena batu telah menjadi wabah baru yang asyik, unik dan menarik.

pengasah batu

pengasah batu

Batu jadi pembicaraan setiap orang, tak kenal tempat dan waktu. Dari warung kopi hingga ruang kerja direksi. Fenomena lama, tapi kini makin menggila.

Kawan-kawan yang biasanya tak peduli urusan ‘perbatuan’ kini justru asik dalam dunia baru ini. Material batu pun tersedia di kantong atau tas, lengkap dengan hp bersenter. Dari serpihan hingga bongkahan dan batu yang sudah dipoles tersedia. Batu berbalut ring titanium pun terbalut cantuk di jari manis.

Demam batu akik telah menyebar dan cenderung tak lazim. Membentuk komunitas baru, gairah baru dan keinginan baru bahkan inspirasi di tengah peliknya dinamika ekonomi.

Realitasnya, batu telah membangkitkan ekonomi kreatif. Tukang asah batu muncul dimana-mana. Mereka yang profesional dan telah menggeluti bidang ini selama bertahun-tahun, makin meningkat pamornya. Para pemula yang awalnya berprofesi di bidang lain, muncul jadi pengasah baru pun ketiban rezeki.

Tiba-tiba seorang teman (wanita) yang selama ini customer service sekaligus marketing officer di sebuah dealer mobil, kini juga menampilkan beragam jenis batu on sale di laman facebooknya. “Kalau mau tanya-tanya, invite pin bb saya 51FB….”

Lain halnya dengan Suprayitno (32). Dikutip dari detik.com, mantan cleaning service perusahaan kargo barang ini berani meninggalkan pekerjaan lamanya untuk bergelut di dunia batu akik. Maklum, sejak usia 20 tahun, dia mengaku sudah mengenal batu akik gara-gara ayahnya yang hobi mengoleksi batu akik berharga murah.
“Gara-gara bokap saja kita jadi tahu beginian. Kalau enggak, ya enggak berani. Lagian, capek jadi cleaning service. Mendingan begini, gosok-gosok sedikit dapat duit,” katanya.

IMG_20141213_123258

Mul yang sudah 25 tahun jadi penggosok batu, kurang senang dengan fenomena asal-asalan dalam menggosok batu akik. “Sekarang tukang ikan jadi tukang batu,” celotehnya sambil menggosok batu di kiosnya di Jalan Lp Tjg Gusta Medan.

Menurutnya, penggosok ahli cenderung menunjukkan yang terbaik bagi konsumennya. Dengan begitu, kemampuannya dalam menggoaok batu otomatis dipromosikan dengan sendirinya. “Yang bicara nanti batunya, bukan oranganya. Batu itu sendiri yang memikat orang untuk datang kemari,” ujar Mul sambil tersenyum.

Sebelum demam batu mengemuka, batu akik sudah jadi perbincangan sejak lama. Namun yang ditonjolkan cenderung bernuansa mistis. Pemakai batu akik cenderung dianggap dukun dan identik dengan orangtua. Tapi sekarang, seiriing dengan penemuan berbagai jenis batu akik nan cantik, penggila batu bukan lagi tersegmentasi dengan usia.

Sebagian anak muda menjadikan batu sebagai identitas dan gaya. Mereka yang berduit memilih batu mulia dengan harga selangit. Tapi yang sederhana memilih akik dengan beragam jenisnya untuk dilingkarkan di jari manis.

Indonesia dengan kekayaan alam yang belum tergali, masih menyimpan ‘kekayaan’ terpendam. Dulu orang tak mengenal giok Aceh. Tapi sekarang, giok Aceh dalam kualitas tertinggi diakui sebagai idola baru. Lalu muncul batu yang dikenal dengan sebutan solar.

Bacan dari kawasan halmahera serta sungai dareh, Sumbar, sudah lebih ternama lebih dahulu. Belum lagi batu keluaran Sumatera Selatan dengan Lavender baturaja. Belakangan muncul juga batu dari Bengkulu dan Jambi.

Kalimantan yang sejak lama jadi produsen batu nasional perlahan mulai meredup pamornya.

Begitupun, fenomena batu akan terus berlanjut. Cara pandang generasi ke depan soal batu akik telah berubah. Batu tak lagi dinilai dari sisi mistisnya, namun dinilai dari keindahannya.

Demam batu semestinya memunculkan kesadaran kita tentang betapa kayanya potensi alam kita. Ini baru soal batu alam saja, mungkin masih banyak potensi benda tambang dan misteri kekayaan negeri ini yang kelak bakal terkuak. (Hadi iswanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s